Blogs

Mini Workshop Lumina – Zero Boxes. Zero Labels. 100% You

Written by Lumina Learning Indonesia | 1 Okt 2026 08.35.35

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan, disadari atau tanpa disadari, kebiasaan memberi label pada diri sendiri maupun orang lain. Mulai dari sebutan introvert, extrovert, perfeksionis, pemalu,dan sebagainya. Menurut teori labeling dalam psikologi sosial (Lungu, 2016), pelabelan bukan hanya sekadar istilah, tetapi dapat membentuk cara seseorang memandang dirinya, berpikir, dan berperilaku. Ketika suatu label terus disematkan, individu dapat menginternalisasinya sebagai identitas, hingga akhirnya bertindak sesuai dengan ekspektasi yang melekat pada label tersebut, sebuah proses yang sering kali menjadi self-fulfilling prophecy (APA Dictionary of Psychology).

Padahal, manusia jauh lebih kompleks daripada satu kata atau kategori. Kepribadian bukan kotak statis, tetapi dinamis (Nickerson, 2025), dipengaruhi oleh konteks, pengalaman, dan ruang tumbuh yang kita miliki. Label bisa membantu kita memahami kecenderungan diri, namun saat hal ini menjadi batas akan sangat berpotensi untuk menghambat perkembangan kepribadian yang autentik (Moeller, 1981).

Berangkat dari pemikiran inilah, Lumina kembali menghadirkan mini workshop pada 25 November 2025 kemarin untuk membahas secara mendalam bahwa setiap orang adalah unik dan memiliki ciri khasnya masing-masing. Setiap orang berhak untuk berekspresi secara bebas dan hidup seutuhnya sebagai diri sendiri, tanpa ada “box” dan “label” yang melekat. Lumina Learning Indonesia mengajak para peserta untuk melihat diri mereka masing-masing secara seutuhnya, sesuai dengan judul dari Mini Workshop tersebut, yakni “Zero Boxes. Zero Labels. 100% You: Saatnya Hidup Sebagai Diri Seutuhnya.”

 

Gambar 1. Zero Boxes. Zero Labels. 100% You: Saatnya Hidup Sebagai Diri Seutuhnya

Mini Workshop Lumina kali ini kembali dipandu secara langsung oleh Lumina Learning Partner di Indonesia, Ibu Ayleen Wisudha. Ibu Ayleen memulai sesi workshop ini dengan menjelaskan poin-poin penting bahwa seringkali muncul pengkotak-kotakan atau labelling di sekitar kita yang membentuk stigma-stigma negatif.

 

Lumina melihat bahwa setiap orang mempunyai ciri pribadi yang berbeda-beda, setiap orang unik, dan tidak ada ciri pribadi yang lebih baik satu dengan yang lainnya. Di Lumina, ciri pribadi seseorang dilihat sebagai Aspek dan diperhalus menjadi Kualitas. Terdapat delapan Aspek kepribadian menurut Lumina yang dijelaskan oleh Ibu Ayleen secara berseberangan, yang mana di setiap masing-masing Aspek memiliki tiga Kualitas. Ibu Ayleen mengajak para peserta workshop untuk secara aktif memilih 1-2 Kualitas mana yang mereka rasa paling mencerminkan diri mereka di situasi dan kondisi tertentu.

 

Seperti pada Aspek Introverted dan Extraverted, pertanyaan yang diajukan adalah tentang bagaimana sikap para peserta saat hendak berbicara dengan orang lain (Lihat Gambar 2).

 

Gambar 2. 3 Kualitas dalam Aspek Introverted dan Extraverted


Kemudian, bergeser ke Aspek lainnya, yakni Aspek People Focused dan Aspek Outcome Focused digunakan untuk bertanya mengenai bagaimana cara pendekatan para peserta jika hendak berbicara dengan orang lain (Lihat Gambar 3).

 

Gambar 3. 3 Kualitas dalam Aspek People Focused dan Outcome Focused

 

Seterusnya, Aspek Big Picture Thinking dan Aspek Down to Earth digunakan untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana ciri perilaku apa yang dipakai para peserta untuk memecahkan masalah (Lihat Gambar 4).

 

Gambar 4. 3 Kualitas dalam Aspek Big Picture Thinking dan Down to Earth

Terakhir, Aspek Discipline Driven dan Aspek Inspiration Driven digunakan untuk menjawab pertanyaan tentang jika dihadapi dengan masalah, cara apa yang dipilih peserta di antara cara yang bervariasi atau lebih tertuju (Lihat Gambar 5).

 

Gambar 5. 3 Kualitas dalam Aspek Inspiration Driven dan Discipline Driven

 

Setelah dijelaskan terkait Aspek dan Kualitas, para peserta dibagi menjadi beberapa Breakout Room untuk saling berdiskusi apa Kualitas yang mereka pilih dan paling mereka rasa nyaman untuk gunakan sehari-harinya.

 

Melalui diskusi tersebut, muncul pengertian bahwa dengan mengenal Kualitas dalam diri kita, kita belajar untuk mengenal diri kita lebih dalam untuk kemudian mampu terbuka untuk bekerja dengan orang lain.

 

Saat kita mengenal diri kita sendiri, kita akan belajar bahwa setiap orang memiliki ciri kepribadian mereka yang juga berbeda-beda. Hal ini menjadi titik untuk kita belajar agar tidak mudah melabeli ataupun mengkotak-kotakan orang lain dengan mengenal keunikan dalam diri kita dan dalam diri orang lain.

 

Di Mini Workshop Lumina kali ini, para peserta sudah belajar untuk lebih mengenali diri agar menghindari melabeli dan mengkotak-kotakan orang lain. Terima kasih untuk semua peserta yang sudah ikut menjadi diri seutuhnya bersama dengan Lumina Learning Indonesia.

Penasaran dan ingin mengikuti Mini Workshop Lumina yang lainnya? Yuk, ikuti dan tunggu informasi tentang Mini Workshop Lumina lainnya di media sosial kami di Instagram dan di LinkedIn. Jangan sampai ketinggalan, ya!



Referensi:

APA Dictionary of Psychology. (n.d.). https://dictionary.apa.org/labeling-theory

Lungu, M. (2016). THE CONSEQUENCES OF LABELLING ON PERSONALITY DEVELOPMENT. Journal Plus Education, 14(1), 112–131. https://www.ceeol.com/content-files/document-628195.pdf

Moeller, C. R. (1981). The effects of labeling on self-esteem, self-description, and behavior. Cardinal Scholar (Ball State University). http://cardinalscholar.bsu.edu/handle/handle/178689

Nickerson, C. (2025, October 13). Labeling theory. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/labeling-theory.html

 

 

Ditulis oleh:

Amelia Prasanti Cahyadi
Intern Lumina Learning Indonesia