Blogs Updated on: Okt 21, 2026

Merdeka Itu Saat Kita Berani Jadi Diri Sendiri

Author Lumina Learning Indonesia Learn More

Subscribe

Dalam keseharian, kita sering dihadapkan pada tuntutan, ekspektasi, dan standar yang tidak selalu sesuai dengan diri kita. Tanpa disadari, kita dapat terlalu sering menyesuaikan diri hingga kehilangan ruang untuk menjadi diri sendiri. Karena itu, kemerdekaan juga berarti memiliki kebebasan untuk mengenali diri, hidup selaras dengan nilai yang diyakini, dan berani menjadi diri sendiri. Hal ini penting agar kita dapat menjalani kehidupan dengan lebih autentik sekaligus menghargai perbedaan dan kebebasan orang lain.

 

Sebagai ruang untuk merefleksikan makna kemerdekaan dari dalam diri, Lumina Learning Indonesia menghadirkan Mini Workshop bertajuk “Merdeka Itu Saat Kita Berani Jadi Diri Sendiri” pada Agustus 2026, berkolaborasi dengan Dyah Indrapati (Ibe), Praktisi Lumina Spark yang juga berkiprah sebagai Systemic Alliance Strategist & Participatory Evaluation Expert. Sesi ini mengajak peserta untuk menemukan kebebasan yang autentik melalui pemahaman diri yang lebih mendalam, sekaligus belajar menghargai keberagaman dan kebebasan orang lain melalui pendekatan Lumina Spark.

 

 

Gambar 1. Mini Workshop Lumina Agustus 2026

 

Sesi Mini Workshop diawali dengan penjelasan mengenai dua kondisi diri, yaitu liberated self dan colonized self, yang menggambarkan bagaimana seseorang dapat menjalani dan menampilkan dirinya. Liberated self menunjukkan kondisi ketika seseorang tetap berpegang pada nilai dan kekuatan dirinya, serta mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Sementara itu, colonized self menggambarkan kondisi ketika diri lebih banyak dipengaruhi oleh tuntutan dan penilaian eksternal, sehingga seseorang cenderung menyesuaikan diri demi memenuhi ekspektasi orang lain dan berisiko mengalami kelelahan.

Gambar 2. Latihan Refleksi Ketika Merasa Perlu Menggunakan “Topeng”

 

Setelahnya, sesi dilanjutkan dengan breakout room, di mana peserta didampingi oleh fasilitator masing-masing untuk melakukan refleksi dan berbagi pengalaman mengenai situasi ketika mereka merasa perlu menggunakan “topeng” dalam kehidupan sehari-hari (Lihat Gambar 2.). Dalam ruang yang aman (safe space) ini, Lumina menjadi wadah bagi peserta untuk bercerita secara terbuka, mengenali pengalaman yang mereka rasakan, serta merefleksikan bagaimana penyesuaian diri tersebut memengaruhi diri mereka.

 

Setelah sesi refleksi, peserta kemudian diperkenalkan pada konsep Lumina Spark melalui tiga persona, yaitu Underlying, Everyday, dan Overextended Persona. Ketiganya menggambarkan bagaimana seseorang dapat menampilkan dirinya secara berbeda berdasarkan situasi yang dihadapi. Perbedaan ini membantu peserta memahami bahwa perubahan perilaku tidak selalu berarti kehilangan keaslian diri, karena seseorang dapat menyesuaikan diri secara sadar sekaligus tetap terhubung dengan dirinya. Namun, ketika penyesuaian dilakukan secara berlebihan, seseorang dapat mengalami tekanan dan semakin jauh dari kondisi dirinya yang autentik.

 

Underlying Persona menggambarkan sisi diri yang paling alami dan spontan ketika merasa aman dan nyaman, Everyday Persona menunjukkan bagaimana seseorang menyesuaikan perilaku dengan situasi dan tuntutan sosial sehari-hari, sedangkan Overextended Persona muncul ketika seseorang berada dalam tekanan dan menggunakan suatu kualitas secara berlebihan hingga menjadi kurang efektif. Dengan memahami ketiga persona ini, peserta dapat mengenali bagaimana dirinya berfungsi dalam berbagai kondisi serta memahami batas antara adaptasi yang sehat dan penyesuaian diri yang berlebihan.

 

Selanjutnya, peserta diajak melakukan refleksi melalui pemilihan dua kualitas dari 24 kualitas Lumina yang paling menggambarkan Underlying dan Everyday Persona mereka (Lihat 24 Kualitas Lumina di Highlights Instagram). Peserta kemudian menghubungkan kualitas tersebut dengan pengalaman yang dibagikan dalam breakout room, khususnya dengan mengidentifikasi kualitas yang selama ini digunakan sebagai “topeng” atau ineffective everyday ketika menghadapi situasi tertentu. Sebagai langkah lanjutan, peserta juga diajak menentukan kualitas yang secara sadar, efektif, dan bijaksana dapat digunakan ketika menghadapi situasi serupa di kemudian hari, yang kemudian dituangkan sebagai Effective Toolbox pribadi.

 

Gambar 3. 24 Kualitas Lumina

 

Sesi berikutnya dilanjutkan dengan penjelasan mengenai pola kualitas dalam Lumina Spark yang membantu peserta memahami bahwa setiap kualitas dapat muncul dan digunakan dengan cara yang berbeda. Kekuatan Utama menggambarkan kualitas yang paling alami digunakan dan menjadi kekuatan utama seseorang, sementara Kekuatan Tersembunyi merupakan kualitas yang sebenarnya dimiliki tetapi belum banyak ditampilkan atau dimanfaatkan. Peserta juga diperkenalkan pada Paradoks, yaitu dua kualitas yang tampak berlawanan tetapi dapat sama-sama menjadi bagian dari diri seseorang, sehingga keduanya dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan situasi. Pemahaman terhadap pola-pola ini membantu peserta melihat keberagaman dalam dirinya secara lebih utuh dan mengenali potensi yang dapat digunakan secara lebih efektif.

 

Gambar 4. Pola-pola Persona

 

Sesi kemudian membahas Overextended Persona, yaitu kondisi ketika kekuatan yang dimiliki digunakan secara berlebihan hingga menjadi kurang efektif. Peserta diajak mengenali situasi, pemicu, dan dampak dari perilaku Overextended dalam dirinya agar dapat menyadari kapan suatu kekuatan mulai berlebihan dan mengembalikannya menjadi perilaku yang lebih efektif. Misalnya, Collaborative dapat menjadi Consensus-Obsessed ketika terlalu membutuhkan persetujuan, Adaptable menjadi Unfocused ketika kehilangan arah, dan Takes Charge menjadi Controlling ketika terlalu mengatur orang lain.

 

Pada akhirnya, kemerdekaan untuk menjadi diri sendiri bukan berarti berhenti beradaptasi, melainkan mampu memilih bagaimana kita merespons berbagai situasi tanpa kehilangan jati diri. Melalui Mini Workshop ini, peserta diajak untuk lebih mengenali kekuatan, pola perilaku, serta kondisi ketika suatu kekuatan mulai digunakan secara berlebihan. Dengan pemahaman tersebut, kebebasan autentik dapat diwujudkan melalui keberanian untuk menjadi diri sendiri, sekaligus tetap terbuka dalam memahami dan menghargai perbedaan orang lain. Karena pada akhirnya, menjadi merdeka adalah ketika kita mampu menjadi diri sendiri dengan sadar, efektif, dan tetap menghargai sesama.

 

Gambar 4. Dokumentasi Sesi Mini Workshop

 

“Banyak insight baru yang aku dapat, terutama terkait dengan 3 persona dan 24 kualitas efektif yang bisa menambah pengetahuan baru, terutama untuk lebih mengenali diri dan berdaya. Terima kasih Lumina ” - Peserta Mini Workshop


“Sesi ini memberikan ruang aman untuk bercerita. Dan belajar Lumina membuat saya lebih memahami diri sendiri bahwa kita juga bisa mendobrak dan memerdekakan diri sendiri tanpa harus terjajah oleh apa yang membatasi kita.” - Peserta Mini Workshop

 

Melalui mini workshop ini, peserta bukan hanya diajak memahami menjadi manusia yang berani untuk merdeka, tetapi juga bisa mengapresiasi hak orang lain untuk menjadi merdeka. Dengan mengenali ketiga persona dalam diri, kita dapat menjadi lebih aware terhadap diri sendiri, sekaligus memahami bagaimana perilaku dan pilihan kita dapat berdampak pada orang lain dan juga sebaliknya.

 

Terima kasih kepada seluruh peserta yang telah hadir dan berpartisipasi dalam Mini Workshop “Merdeka Itu Saat Kita Berani Jadi Diri Sendiri”. Semoga sesi ini dapat menjadi ruang bagi peserta untuk terus mengenali diri, menemukan kebebasan yang autentik, dan membangun relasi yang saling menghargai. Nantikan Mini Workshop Lumina selanjutnya dan terus ikuti perjalanan eksplorasi diri bersama Lumina Learning Indonesia melalui Instagram dan LinkedIn.


 

Ditulis oleh:

Maritza Calysta
Research Assistant Intern at Lumina Learning Indonesia

Maritza

individuals-2

Curious how we can help you transform your organisation?

Get in touch to find out more

Get in touch

Similar posts

Bergabunglah dengan ribuan orang yang menerima kabar terbaru kami setiap bulan.