Cerita selengkapnya
Kebutuhan Akademik
Hong Kong University of Science and Technology (HKUST) telah lama diakui sebagai lembaga akademik yang dihormati secara global. Terkenal karena kurikulumnya yang ketat dan mahasiswa yang berprestasi, universitas ini terus mencari cara-cara baru untuk mendukung perkembangan pribadi dan profesional para mahasiswanya. Tekanan kehidupan akademik, ditambah dengan gejolak sosial di Hong Kong dan pandemi COVID-19, semakin menekankan perlunya program yang dapat memperkuat resiliensi, kemampuan beradaptasi, dan rasa kebersamaan. Dengan fokus yang semakin besar pada pengembangan mahasiswa secara menyeluruh di luar prestasi akademik, HKUST melihat peluang untuk membangun budaya kampus yang lebih mendukung, tangguh, dan sadar diri.
Lumina Spark dipilih karena kemampuannya dalam menyediakan pendekatan terstruktur dan berbasis bukti untuk memahami kekuatan individu, perbedaan interpersonal, dan kemampuan beradaptasi. Dengan mengintegrasikan Lumina Spark ke dalam inisiatif kurikuler dan kokurikuler, HKUST memastikan mahasiswa dapat menerjemahkan kesadaran diri menjadi tindakan, sehingga meningkatkan pengembangan diri, kerja sama tim, dan kesiapan mereka untuk karier di masa depan.
Yang memimpin pendekatan transformasional ini adalah Profesor King Chow, Dekan Kemahasiswaan, dan Helen Wong, Kepala Program Ekstrakurikuler di Kantor Dekan Kemahasiswaan. Bersama-sama, mereka mengedepankan strategi holistik dengan mengintegrasikan Lumina Spark ke dalam inisiatif kurikuler dan ekstrakurikuler. Pendekatan ini memperkuat reputasi HKUST sebagai institusi unggulan dan memposisikan universitas ini untuk menarik serta mempertahankan talenta terbaik secara global.
.png?width=629&height=324&name=Untitled%20design%20(9).png)
Solusinya
Profesor King Chow dan Helen Wong diperkenalkan dengan Lumina Spark pada tahun 2018 melalui rekan mereka, Grace Siu, di Career Center yang telah menggunakan Lumina Spark dalam kursus pengembangan karier. Tertarik dengan kedalaman pengukurannya yang berbasis pada sifat dalam menilai perilaku serta fleksibilitasnya dalam membentuk wawasan tentang penerapan pembelajaran intuitif untuk mengatasi tantangan perkembangan spesifik apa pun, ia segera menyadari keselarasan antara Lumina Spark dan aspirasi pendidikan HKUST. Alih-alih mengkategorikan mahasiswa dengan asumsi-asumsi yang membatasi mengenai gaya pribadi dan potensi mereka—yang mungkin sudah diyakini oleh banyak orang—Lumina Spark menawarkan pemahaman kepribadian yang dinamis dan dipersonalisasi, yang menghargai berbagai cara menjadi diri sendiri serta menunjukkan bahwa perilaku dapat berubah melalui model Tiga Persona: Underlying, Everyday, dan Overextended.
Terkesan dengan kemampuan alat ini dalam menggali potensi mahasiswa, Profesor King Chow memimpin upaya untuk mengintegrasikan Lumina Spark ke dalam mata kuliah “Habits, Mindset, and Wellness”, sebuah program dasar bagi mahasiswa tahun pertama. Tujuan mata kuliah ini adalah untuk mengembangkan Growth Mindset di kalangan mahasiswa. Kepemimpinan strategisnya memastikan aksesibilitas alat ini di seluruh universitas, dengan mengamankan pendanaan untuk mengimplementasikannya secara luas di berbagai departemen dan layanan. Bagi mahasiswa tahun pertama, mata kuliah “Habits, Mindset, and Wellness” menjadi ruang penting untuk mengeksplorasi diri mereka, menetapkan tujuan, dan merencanakan masa depan.
Profesor King Chow memprioritaskan pelatihan bagi para advisor, dosen, dan staf program kokurikuler agar dapat menggunakan Lumina Spark secara efektif. Hal ini mencakup sesi tanya jawab dan workshop terperinci untuk membantu staf memahami cara menafsirkan Lumina Spark Portraits serta membimbing mahasiswa dalam merefleksikan Portraits mereka.
Helen Wong memegang peranan penting dalam mengintegrasikan Lumina Spark ke dalam program kokurikuler HKUST. Di tengah penutupan kampus yang berkepanjangan akibat pandemi COVID-19 dan gerakan sosial lokal, Helen Wong beserta timnya menghadapi momen kritis ketika program kokurikuler terhenti total. Alih-alih hanya bersikap reaktif, Helen justru mencari peluang pengembangan. Momen penting terjadi ketika ia menghadiri konferensi keterampilan masa depan di Korea, sebuah pengalaman yang membuka pintu untuk bekerja sama dengan Koru Consulting dan memperdalam minatnya pada Lumina Spark. Titik balik ini mengubah perannya dari dukungan reaktif menjadi pengembangan proaktif, yang selaras sempurna dengan nilai-nilai HKUST seputar otonomi mahasiswa dan inovasi. “Saya tidak ingin terjebak hanya dalam menyelesaikan krisis saat ini,” jelasnya, “Saya ingin mengeksplorasi apa yang akan dibutuhkan oleh mahasiswa di masa depan.” Pendekatannya menekankan resiliensi, kemampuan beradaptasi, dan refleksi diri, dengan memanfaatkan Lumina Spark untuk menciptakan lingkungan di mana mahasiswa dapat menemukan kekuatan mereka, mengeksplorasi nilai-nilai mereka, dan memahami respons mereka terhadap stres.
Menyadari bahwa pengalaman mahasiswa sangat beragam, King dan Helen menjadikan umpan balik sebagai prioritas. Melalui survei dan jurnal refleksi diri, mereka mengumpulkan umpan balik dari mahasiswa mengenai pengalaman mereka dengan Lumina Spark. Umpan balik ini memungkinkan penyesuaian kurikulum dan membantu Helen menyempurnakan program kokurikuler, sehingga program tersebut menjadi lebih relevan dengan kebutuhan mahasiswa.
Tujuannya bukan sekadar menyediakan sebuah alat, melainkan menciptakan bahasa bersama mengenai pertumbuhan dan perkembangan. Lumina Spark menjadi katalisator bagi percakapan yang lebih mendalam, kolaborasi yang lebih kuat, dan pemahaman diri yang lebih baik di seluruh HKUST.
Bagaimana Helen dan timnya menerapkan Lumina Spark bersama para mahasiswa
![Splash-App-Icon[1]](https://luminalearning.com/hs-fs/hubfs/Splash-App-Icon%5B1%5D.png?width=100&height=100&name=Splash-App-Icon%5B1%5D.png)
Memulai dari yang kecil dengan aplikasi Lumina Splash gratis: Untuk memperkenalkan Lumina Spark kepada mahasiswa, tim memutuskan untuk memulai dengan uji coba skala kecil. Mereka menggunakan versi Lite gratis dari aplikasi Splash dengan kelompok mahasiswa yang lebih kecil. Tujuannya adalah untuk membangkitkan rasa ingin tahu dan minat terhadap Lumina Spark dengan cara yang mudah diakses dan tanpa hambatan, sehingga mahasiswa dapat melihat Splash mereka dan merasakan bagaimana alat ini bekerja tanpa harus berkomitmen terlebih dahulu.
Menawarkan sesi lanjutan Lumina Spark Portrait: Setelah siswa merasakan pengalaman tersebut, langkah selanjutnya adalah menawarkan sesi terbuka opsional di mana mereka dapat memilih untuk menyelesaikan Lumina Spark Portrait lengkap yang terdiri dari 144 pertanyaan. Hal ini memungkinkan siswa yang tertarik untuk mendalami lebih jauh, sambil tetap menjaga paparan awal agar tetap ringan dan menarik.
Menyelenggarakan workshop yang bertema menarik: Selain Portrait individu, tim mulai mengembangkan workshop bertema yang berfokus pada kualitas tertentu, seperti gaya komunikasi dan resolusi konflik. Dengan dukungan dari Lumina Learning, workshop ini berfokus pada hanya dua atau tiga Kualitas sekaligus. Tujuannya adalah untuk membantu baik siswa maupun staf membangun pemahaman yang lebih mendalam serta penerapan praktis dari alat ini, dengan cara yang terasa relevan dan dapat dijalankan.
Strategi Helen juga sangat bergantung pada dukungan sesama mahasiswa. Ketika mahasiswa senior melihat nilai dari pengalaman ini, mereka secara alami merekomendasikannya kepada orang lain. Momentum dari mulut ke mulut ini sangat penting terutama di fakultas yang lebih besar dan lebih teknis seperti teknik, di mana dukungan mahasiswa memerlukan dorongan ekstra.
Untuk mendukung skalabilitas, tim Helen berfokus pada identifikasi rekan kerja di berbagai sekolah yang dapat menjadi ahli Lumina internal. Meskipun sudah ada sekitar 25 praktisi, 12 di antaranya berada di timnya sendiri, tujuannya bukanlah membebani mereka dengan tugas menyelenggarakan sesi untuk ratusan mahasiswa. Sebaliknya, mereka akan berperan sebagai duta dan kontak utama di tingkat lokal untuk membantu mengintegrasikan Lumina Spark secara lebih luas.
Yang penting, tim tersebut membedakan antara menjadi praktisi bersertifikat dan sekadar menggunakan Lumina Spark sebagai alat praktis. Staf dapat menggunakan Portrait sebagai panduan untuk memberi nasihat kepada mahasiswa. Karena Portrait bersifat naratif dan ramah mahasiswa, bahkan mereka yang bukan ahli pun dapat memfasilitasi percakapan yang bermakna hanya dengan menggunakan Portrait cetak tersebut.
Salah satu teknik cerdas yang digunakan adalah menyajikan dua halaman pertama Lumina Spark Portrait sebagai profil LinkedIn yang siap pakai. Pemasaran ini langsung menarik minat para mahasiswa, memberi mereka alasan yang jelas untuk terlibat dengan materi tersebut. Hal ini juga berarti mereka dapat memperoleh manfaat dari Portrait meskipun mereka tidak sepenuhnya memahami setiap pola atau kerangka kerja.
Keterlibatan Dosen dan Dampaknya di Kelas
Seiring Lumina Spark semakin mengakar di tingkat institusi, para dosen dari berbagai fakultas mulai mengintegrasikannya ke dalam pengajaran dan bimbingan mereka. Salah satu contohnya datang dari James Wong, seorang profesor di Fakultas Humaniora dan Ilmu Sosial.
Latar belakang James dalam filsafat politik dan pendidikan membuatnya sangat tertarik untuk menumbuhkan pembelajaran reflektif. Meskipun ia tidak memimpin inisiatif Spark, ia menyadari potensinya untuk memperdalam keterlibatan mahasiswa. Dalam mata kuliah wajib “Habits, Mindset, and Wellness”, James menggunakan Lumina Spark untuk mendukung mahasiswa dalam mengeksplorasi kualitas pribadi mereka dan berpikir lebih luas tentang perkembangan mereka di luar prestasi akademik.
Ia juga menerapkan pendekatan yang dipersonalisasi dengan membagikan “Lumina Spark Portrait” miliknya sendiri dalam sesi bimbingan one-on-one, mencontohkan keterbukaan, dan mendorong mahasiswa untuk memandang pertumbuhan sebagai perjalanan yang berkelanjutan dan bersama. Penggunaan Spark olehnya membantu menjembatani kesenjangan antara dosen dan mahasiswa, membangun kepercayaan, serta menciptakan ruang di mana kesadaran diri menjadi bagian dari budaya pembelajaran.
Keterbukaan yang mirip dengan sesama rekan ini berkontribusi pada terciptanya lingkungan yang tidak hierarkis, di mana para mahasiswa memandang dosen mereka bukan sebagai figur otoritas yang jauh, melainkan sebagai sesama pembelajar yang juga sedang menavigasi perkembangan diri mereka sendiri. Bagi banyak orang, perubahan ini membuat refleksi terasa lebih aman dan lebih otentik, sebuah unsur penting dalam pertumbuhan pribadi yang bermakna.
Demikian pula, Arthur Lau, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Associate Professor di bidang Pendidikan Interdisipliner, mengamati nilai Lumina Spark dalam pekerjaan bimbingan dan fasilitasi yang dilakukannya. Meskipun tidak terlibat langsung dalam peluncurannya, Arthur bekerja erat dengan mahasiswa dari semua angkatan dan menyaksikan bagaimana Spark mendukung perkembangan mereka dengan cara yang praktis dan bermakna. Ia menemukan bahwa ketika mahasiswa berinteraksi dengan Lumina Spark Portraits mereka, mereka sering kali memperoleh pemahaman yang lebih jelas tentang kekuatan pribadi, kekuatan tersembunyi, dan kecenderungan perilaku mereka, terutama saat di bawah tekanan. Kesadaran diri ini, katanya, menjadi landasan yang kuat bagi pertumbuhan pribadi dan akademik.
Arthur juga menggunakan terminologi Lumina untuk mendukung dinamika tim selama proyek kelompok, terutama ketika konflik atau miskomunikasi muncul. Dengan mendorong para siswa untuk merenungkan gaya komunikasi dan perilaku mereka yang berlebihan, ia membantu mereka membangun kembali rasa percaya dan bekerja dengan lebih kompak. Menurutnya, Spark memberi para siswa alat bantu tidak hanya untuk memahami diri mereka sendiri dengan lebih baik, tetapi juga untuk menghadapi perbedaan secara konstruktif, sekaligus membangun ketangguhan emosional dan kepercayaan diri dalam berkolaborasi.
Keterlibatan dosen semacam ini membantu memastikan bahwa alat tersebut tidak terbatas pada workshop yang berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari pembelajaran dan interaksi sehari-hari.
Hasil
Integrasi Lumina Spark telah mendorong pertumbuhan budaya yang signifikan di seluruh HKUST. Para mahasiswa kini lebih peka terhadap kekuatan mereka dan lebih mampu beradaptasi dalam menghadapi tantangan. Alat ini telah menjadi jembatan antara mahasiswa dan dosen, yang memupuk rasa percaya dan bimbingan.
-
Peningkatan kesadaran diri dan pertumbuhan pribadi: Lumina Spark telah memberikan perspektif baru kepada mahasiswa tentang diri mereka sendiri, menyoroti kekuatan, area yang perlu dikembangkan, dan respons terhadap stres. Banyak mahasiswa melaporkan bahwa mereka menjadi lebih percaya diri dan termotivasi karena mereka lebih memahami bagaimana kualitas unik yang mereka miliki dapat berkontribusi pada tujuan akademik dan karier mereka.
-
Resiliensi dan kemampuan beradaptasi: Kemampuan untuk melihat “Overextended” Personas mereka membantu mahasiswa mengidentifikasi perilaku yang dipicu oleh stres, sehingga memungkinkan mereka mengembangkan strategi coping. Fokus pada ketangguhan ini telah membekali mahasiswa untuk menghadapi tekanan kehidupan kampus dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan karier mereka di masa depan.
-
Hubungan dosen-mahasiswa dan bimbingan: Dosen dan advisor yang terlatih dalam Lumina Spark kini tidak hanya berperan sebagai pembimbing akademik, tetapi juga menjadi mentor yang dapat memberikan dukungan yang disesuaikan dengan profil masing-masing mahasiswa. Hal ini telah menciptakan lingkungan yang lebih mendukung di seluruh kampus, memperkuat hubungan, dan membangun kepercayaan.
-
Pertumbuhan di masa depan dan studi longitudinal: Visi King untuk masa depan mencakup pelaksanaan studi longitudinal guna mengukur dampak jangka panjang Lumina Spark terhadap kesuksesan mahasiswa. Melacak efek alat ini dari waktu ke waktu akan memungkinkan HKUST untuk menyesuaikan dan memperluas penggunaan Lumina Spark, memastikan bahwa manfaatnya menjangkau generasi mahasiswa di masa depan.
Lebih dari sekadar pengembangan individu, Helen mencatat bahwa Lumina Spark telah menjadi “sebuah platform untuk membuat mahasiswa kami merasa bahwa kami berada dalam perahu yang sama.” Alat ini bukan sekadar metode untuk memahami kepribadian, melainkan telah menjadi titik temu budaya, menjembatani hambatan bahasa dan disiplin ilmu, serta menyatukan mahasiswa dalam perjalanan pertumbuhan bersama.
Melalui upaya visioner King Chow dan Helen Wong, HKUST telah menciptakan pendekatan yang kuat dan berorientasi masa depan untuk pengembangan mahasiswa. Dengan mengintegrasikan Lumina Spark ke dalam pengalaman akademik dan kokurikuler, universitas ini telah memperkaya budayanya dengan empati, ketangguhan, dan pertumbuhan pribadi. HKUST menjadi contoh cemerlang tentang bagaimana lembaga-lembaga yang berpikiran maju dapat memberdayakan mahasiswa agar berkembang, baik secara akademis, sosial, maupun pribadi, dengan mengakui dan menghargai kompleksitas jati diri mereka.
Helen Wong bersama mahasiswa HKUST dalam diskusi panel pada konferensi “Who Killed Resilience?” yang diselenggarakan oleh Koru Consulting dan Lumina Learning